[BOOK REVIEW] Papua Berkisah

Judul : Papua Berkisah | “Hidup bukan selalu soal cinta”
Penulis : Swastika Nohara
Penerbit : Loveable
Edisi : Soft Cover
ISBN : 9786027689701
Tanggal Terbit : 2014-02-20
Bahasa : Indonesia
Halaman : 210 hlm
Ukuran : 13×19 cm
Berat : 156 gram
_______________________________________

BLURB

Evaline Maria Tibul, gadis berusia 21 tahun. Terlahir dengan kulit gelap dan rambut kribo. Sebab, orangtuanya asal Papua. Eva kini merasa lebih trendi dengan rambut lurus hasil rebonding di salon. Seperti gadis muda di Jakarta pada umumnya, Eva selalu mengikuti tren fashion terbaru, meski gajinya sebagai kasir sebuah minimarket masih sebatas upah minimum provinsi. Eva sudah sangat senang dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini. Namun, kehidupan Eva mulai berubah ketika bapaknya, Saulus, mengajak Eva pulang ke tanah kelahirannya, Papua, sepeninggal istrinya. Dan Eva, terpaksa menerima ajakannya ayahnya. Walaupun harus melepas pekerjaannya yang saat itu dirinya sedang dipromosikan. Padahal, ia sudah menolak mentah-mentah ajakan bapaknya. Baginya, ia sudah menjadi bagian dari Jakarta. Dan ia berjanji dalam dirinya, tanpa diketahui oleh bapaknya, kalau dia akan sementara saja di Papua.

Dalam perjalanan menuju Papua, amarah, egois, sedih, tawa, ketakutan, dan kejadian aneh dialami oleh Eva. Mulai pengkhianatan sang pacar yang berhubungan dengan sahabat terbaiknya. Konflik dengan sang ayah. Ditipu oleh pria yang baru
saja dikenal Eva saat di perjalanan. Pertama kalinya diajak ke warung remang remang. Hingga tertinggal kapal di Nabire, padahal ia harus ke Pelabuhan Jayapura dengan bapaknya. Apakah, Eva akan menyusul bapaknya? Mencintai Papua dan tinggal di sana. Apakah ia akan mendapatkan cinta sejatinya pada seorang beberapa pria yang dikenalnya sepanjang perjalanan? Atau justru, Eva memilih balik ke Jakarta. Menjalani kehidupannya
seperti biasa?

Kau temukan jawabannya di sini.

image

••••

REVIEW

Saya baru mendapat buku ini dari penerbit Loveable (03/04/14) dan langsung melahapnya sampai rela membacanya semalam suntuk. Alasannya?

1. Covernya warna oranye bata, membuat saya tertarik,
2. Penulisnya adalah Swastika Nohara!!!
3. Saya suka Papua dan judul buku ini memikat saya,
4. Kisah dalam buku ini tentang anak-bapak yang mengingatkan saya dengan alm. Papa. Hiks. *ambil tisu*

Sebelum membuka buku ini, saya langsung tergerak membacanya karena saya tahu, Swastika Nohara adalah salah satu penulis sekenario perfilm-an di Indonesia. Salah satu sekenario buatannya yang paling terkenal adalah film “Hari Ini Pasti Menang” . Nah, apakah novel debut mbak Tika ini sama bagusnya dengan sekenario yang biasa beliau buat? Hm.. Saya ulas dulu ya, baru bisa menilai seperti apa isi buku tersebut. Apakah sesuai dengan interpretasi saya?

1. FIRST IMPRESSION
Dari blurb di atas (yang tertera di bagian belakang kaver buku), sebetulnya mampu membuat saya menebak isi keseluruhan cerita tentang A, B, C, sampai X. Akan tetapi, rasa penasaran tentang bagaimana itu semua bisa terjadi, baru bisa terjawab ketika saya menyelesaikan membaca hingga di halaman terakhir. Beberapa konflik sederhana yang ada di setiap halamannya ini, makin membuat saya bernostalgia tentang masa kecil sewaktu berdebat dengan orangtua. Penulis mampu mengangkat kasus kecil secara detail yang sering terjadi di sekitar kita. Menurut saya, buku ini semacam satire bagi kita yang kadang lupa tentang etika bersikap kepada orangtua.

2. DESIGN COVER
Saya suka pemilihan kertas yang tebal dan tidak buram. Tampilan kaver juga menarik dan sederhana, dan menurut saya, antara judul dengan isi terdapat sinkronisasi.

3. CHARACTERS
Ada dua tokoh utama di sini, yaitu ;
1. Eva Maria Tibul. Sang anak 21 tahun yang bekerja menjadi kasir salah satu pusat perbelanjaan. Anggota Jak Angels di Jakarta.
2. Saulus Tibul -ayahnya seorang pekerja sopir taksi yang sudah bekerja selama puluhan tahun. Sifatnya yang kental sekali dengan adat orang Timur tidak luntur menskipun sudah lama tinggal di Jakarta.

Tokoh lain :
-Yana, sahabat Eva yang satu pekerjaan dan satu komunitas di Jakmania. Dari deskripsinya, sepertinya dia anak yang lebih cantik dari Saya. #okesip
– Dedi, pacar Eva di Jakarta. #UdahGituAja
– Winny, teman figuran Eva yang muncul sekalimat saja.
– Frans, sahabat dekat keluarga Eva.
– Martinus, anak pertama Saulus dan Lisa yang menetap di Surabaya dan sudah menikah dengan Arum, serta mempunyai dua anak bernama Nabila berusia enam tahun dan Melody yang berusia tiga tahun. *kemudian teringat member JKT48* .
– Jansen, paman Eva yang membantu Saulus mendapatkan tiket.
– Sapto, kerabat Saulus saat tinggal di Surabaya. Dan mereka bertemu lagi saat Saulus pergi ke Semarang.
– Tanto, sopir dadakan yang ditemui di Semarang.
– Janus, lelaki parlente yang ditemui Eva di kapal menuju Jayapura. Dia seorang manajer aktris yang hendak pulang ke Nabire.
– Ubertus, teman makan Eva dan Saulus saat di kapal. Berasal dari Jayapura.
– Mama Anna, seorang ibu baik hati yang menolong Eva ketika di Nabire.
– Mama Joyce, kerabat mama Anna yang membantu Eva pulang ke Jayapura.
– Lisa, ibu kandung Eva yang hidupnya berakhir di bab satu tapi namanya menjadi pembuka awal kisah dalam buku ini.

4. PLOT
Setting awal menceritakan masing-masing kegiatan Eva dan Ayahnya, kemudian cerita masuk lebih dalam lagi, menggiring pembaca pada percakapan dua orang yang banyak terjadi selama perjalanan, dan itu menguatkan kedekatan emosional antara anak yang sudah gaul karena besar di ibukota, dengan ayah yang masih kolot dan serius. Saulus dan Eva mencoba membangun komunikasi yang cukup rumit. Saulus dengan dialek dan bahasa Papua-nya, Eva dengan dialek Jakarta. Saya suka cara penulis menciptakan dialog antar tokoh yang terasa sangat nyata. Eva benar-benar anak remaja Jakarta yang aktivitasnya tak luput dari bermain ponsel, dan kelakuannya membuat saya seperti bercermin dan berkata ; Ya ampun, saya juga seperti itu! Sementara Saulus benar-benar seperti bapak kebanyakan, yang keras kepala dan bersebrangan dengan pemikiran anak perempuan. Bagusnya buku ini, Saulus konsisten memakai bahasa Papua dalam dialog sejak awal sampai akhir cerita. Alurnya sendiri maju-mundur-maju tapi ‘tek-tok’ sehingga tidak membuat pembaca kebingungan.

5. POV
Menggunakan sudut pandang ketiga. Tapi di bab dua (hlm. 45) terjadi perpindahan Pov ke-1 di mana tokoh Eva menggunakan kata aku di luar ungkapan batin.

6. MAIN IDEA
Sederhana sekali, tentang perjalanan seorang bapak yang merindukan kampung halaman, dan seorang anak yang terpaksa ikut pulang kampung padahal tidak mengenal tempat tujuannya, Wamena. Saya jadi rindu alm.papa saya *ambil tisu lagi* .

7. MISTAKES
Buku ini dikemas dengan gaya bahasa yang sangat lugas, apa adanya, tapi mampu membuat kental isi cerita melalui porsi yang pas. Aduh, saya suka sekali dengan deskripsi visual yang dipaparkan oleh penulis. Tulisannya yang ringan diksi membuat pembaca tak perlu banyak berpikir mengartikan, dan tetap bisa fokus pada kejadian cerita. Tapi, tetap saja, ada kekurangan yang saya temui dalam buku ini ;

– Sementara Frans memegangi Lisa yang masih belum mampu menghentikan air matanya. Saulus segera menghambur memeluk tubuh Lisa… —> salah penulisan nama tokoh. Lisa, seharusnya Eva. (hlm. 19 line 1)
– Kemudia —> seharusnya Kemudian. (hlm. 26 paragraf 1 baris 6).
– kemana —> seharusnya ke mana. (hlm. 136 line 9)
– memerhatikan. —> Eh, nggak tahu ya ini salah atau bukan, tapi setahu saya yang betul itu memperhatikan, P tidak luluh (hlm. 168 paragraf 3 line 1).
– Sejumlah
penumpangyangakanturundikotaNabiretelahmemberikan ruang gerak yang lebih longgar bagi penumpang lain yang naik dari pelabuhan Nabire. —> fatal, tidak ada spasi. (hlm. 171 paragraf 4 line 4).
– …mengarahkan pembicaraanseputarkehidupanSauluskelakditanahPapua, —> tidak ada spasi (hlm.170 paragraf 1 line 2).

8. QUOTES
Mm, karena memang pengemasan buku ini ringan diksi, nggak ada banjir quotes yang berdarah-darah gitu. Tapi ada satu kalimat yang membuat saya setuju sekali ketika membacanya.

– “Lelaki memang kepala keluarga, tapi perempuan itu lehernya. Kemana leher mengarah, ke situ pula kepala menoleh,” ~Martinus, hlm.136

9. ENDING
Wah, endingnya sesuai dengan ekspetasi. Entah harus sedih atau senang.

10. QUESTIONS
– Apakah Saulus itu benar ada atau hanya tokoh fiksi?
– Apakah di Timur sana, siapa saja bisa saling membantu walaupun tidak saling mengenal? Karena di Jawa Barat, kita tidak bisa langsung mempercayai seseorang yang sebelumnya tidak kita kenal.
– Apakah akan di buat film nya?

Rating
3.5 dari 5.

Advertisements

4 thoughts on “[BOOK REVIEW] Papua Berkisah

  1. Kalau menurut saya, yang benar memang ‘memerhatikan’. Huruf P nya luluh.
    Tapi yang nggak ada spasi itu kesalahan yang fatal banget buat saya.

    Oh iya, reviewnya panjang banget! Lengkap. Jadi penasaran sama buku ini. Terlebih tentang ayah-anak. Pasti bikin terharu. *ingat bapak di rumah*

    1. tapi kan kata dasarnya hati, sementara yang luluh itu kalau huruf awalnya P. hehe tapi saya masih harus belajar lagi nih. iya bukunya seru, silakan beli di toko buku terdekaaat heheehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s