Dongeng Malam untuk Papa

Selamat malam, Pa. Semoga nyenyak tidurmu malam ini. Saya sepertinya tak bisa tidur, akan sibuk menjelajahi isi website online shop yang menjajakan buku-buku fiksi.

Pa, belasan tahun silam kita punya mimpi untuk naik bus tingkat. Tetapi, papa pergi bersamaan dengan menghilangnya bus itu ketika penggunaannya dihentikan. Ingat, kan? Sekarang, bus tingkat ada lagi di Jakarta. Dan karena saya menjunjung tinggi kesetiaan, saya tak mau menaiki bus tingkat itu selain sama papa.

Bicara soal setia, istrimu menguasai betul soal kesetiaan. Zaman sekarang, ponsel bukanlah barang mahal, Pa. Semua orang punya. Zaman dulu, barang paling mahal untuk melakukan komunikasi adalah ‘Pager’ dan yang mengejutkannya, Pager itu masih disimpan istrimu di kamarnya. Saya dan kakak bersikeras untuk membuangnya. Ibu bilang, “Jangan, ini untuk kenang-kenangan.”

Tahun 2012 lalu saya berhasil membujuk ibu untuk membuang lemari milik papa, menghancurkan ranjang papa, menyumbangkan semua pakaian papa. Semua tentang papa harus hilang. Bukan karena saya membenci papa, kau tahu betul seberapa sayangnya saya padamu, no words to described how much I love you. Semua itu semata saya lakukan agar istrimu tidak larut dalam kesedihan. Butuh 12 tahun merayunya untuk membuang semua tentangmu, dan berhasil. Beliau hanya diam di kamar sementara kami; anak – anaknya, sibuk menghancurkan lemari dan barang lainnya. Tapi, kasurnya masih ada di kamar saya. Pun kenangan tentangmu tidak bisa kami lenyapkan. Dan Pager itu masih tersimpan dengan baik. Setia itu menyakitkan ya, Pa.

Pa, Jakarta sekarang banyak berubah. -Entah itu karena Jokowi dan Ahok yang memimpin Ibukota, atau karena papa sudah tak ada- semua terasa berbeda.

Tetapi, ada yang tidak pernah berubah dalam hidup saya. Kini usia saya 21 tahun, dan hal – hal yang tak berubah itu, masih saya rasakan. Kalau saya menikah kelak, semuanya tentu tak akan sama lagi…

Setiap hari dalam hidup saya, masih ada (istrimu, -ibu kandung saya) yang suka menyalakan AC serta menyemprot obat nyamuk sebelum saya pulang, menyediakan makan malam begitu sampai di rumah, mematikan lampu kamar dan menyelimuti ketika saya jatuh terlelap. Memindahkan kacamata saya ke meja belajar, menjauhkan novel bacaan dari kasur -agar tidak lecak karena terbawa tidur. Saya belum sempat mengobrol padanya. Lelah beraktivitas seharian membuat saya segera memejamkan mata setelah tweeting beberapa kali.

Paginya, tirai di jendela kamar saya sudah terbuka. Melalui kacanya  saya bisa lihat kelopak mawar yang basah terkena siraman air. Istrimu masih sama seperti dulu, gemar menyiram kembang dini hari. Wangi sarapan pagi menusuk tajam, dan uap susu tanpa gula begitu pekat menyapa udara di kamar saya. Air di bak mandi sudah terisi penuh untuk dipakai, pakaian saya sudah rapi di meja setrika, serta ongkos tergeletak di meja ruang tamu. Tapi ibu tidak ada di dapur, pun di kamar. Tidak juga di teras. Sudah pergi bekerja dan meninggalkan saya dengan aroma parfumnya yang masih tersisa di pintu depan rumah. Ibu baru saja pergi ketika saya terbangun. Lagi-lagi, saya gagal mengobrol walau sebentar saja.

Begitulah pa, kami seatap tapi jarang saling tatap.

Sekalinya kami bersama-sama, itu waktu beliau sakit parah beberapa bulan yang lalu. Ibu sibuk tidur dan saya sibuk membaca. Dan kesenyapan merajai seisi rumah. Tak ada aktivitas. Tak ada percakapan hangat. Tak ada aroma masakan yang biasanya dimasak. Hanya detak jarum jam di dinding yang terdengar, plus suara air di kamar mandi yang mengucur pelan. Selebihnya, rumah ini sunyi.

Lalu tamu – tamu berdatangan.
Tamu – tamu dengan hati tulus menanyakan kondisi keuangan yang tak mulus.
Tamu – tamu yang penuh dengan mata – mata nyalang melihat rumah yang ditumbuhi ilalang.
Tamu – tamu yang penuh kata – kata simpati tapi tak berasal dari hati.
Dan sanak saudara yang tiba, segera mengucap doa – doa.

Sudah saja. Datang, basa – basi, lantas pulang. Sebab saya tak menghidangkan kudapan juga minuman walau segelas. Apa yang bisa saya lakukan? Mematung. Saya lumpuh melakukan aktivitas rumah. Andai papa di sini, saya pasti sudah habis kau caci maki karena tak becus merawat istrimu .

Kabar baiknya, sekarang istrimu sehat pa. Dan beliau berhenti mengonsumsi kafein. Saya ingat sekali, waktu papa sibuk menghisap beberapa batang rokok dan istrimu sibuk menenggak bergelas-gelas kopi. Kalian berdua pecandu yang kemudian di khianati oleh mereka. Ya, papa mati karena asap rokok itu, dan istrimu sakit parah karena kopi. Asam lambungnya akut. Syukur beliau sehat saat ini.

Kabar buruknya, saya juga menjadi seorang pecandu ; menjadi penikmat YouTube, menonton kartun, atau serial drama Asia, juga menonton mv, kemudian saya lupa waktu. Saya kadang mengalami distorsi waktu, Pa. Saya berpikir ini hari ahad, ternyata sudah kamis. Saya kira ini pukul delapan malam, tahunya pukul dua pagi. Ditambah pola makan yang tidak teratur, membuat saya semakin terlihat buruk. Tapi di liang lahat sana kau jangan khawatir, saya selalu sehat.

Pa, bisakah untuk sementara ini jangan datang dulu ke mimpi saya? Selain takut, saya selalu sedih ketika terbangun. Dan saya mau menghabiskan sisa waktu hidup saya dengan istrimu. Biarkan kami akur sebelum salah satu di antara kami pergi, biarkan kami mengobrol lebih banyak tentang masa depan saya, tentang rencana – rencana baru, mimpi – mimpi indah. Biarkan untuk sejenak saja, papa tidak ada di antara kami. Kadang kita butuh jarak dengan kenangan, agar tahu ada sebuah realita yang mesti dihadapi. Tapi percayalah, kami selalu sayang papa dan kau tak pernah tergantikan. Hanya saja, kau tahu, rasanya sesak kalau terus – menerus menghadirkan orang yang sudah tiada dalam percakapan sehari – hari.

P.s : melihat istrimu yang begitu setia, saya jadi ragu. Apakah saya bisa menjadi wanita yang setia dan tangguh seperti istrimu? Dan… Apakah saya bisa menemukan lelaki yang sepertimu, Pa? Saya sudah cukup umur untuk menanyakan ini kan? Ayolah pa, jawab sekali ini saja.

Lihat bacaan pagi untuk papa sebelumnya di sini.

Advertisements

9 thoughts on “Dongeng Malam untuk Papa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s