Skripsi : Minggu Pertama

Dulu sekali, entah di usia berapa, saya selalu memperhatikan kakak saya mondar-mandir dari rumah ke kampus, pulang membawa setumpuk berkas, tidur larut malam, komat-kamit menghafal pelajaran, dan saya rasa kuliah itu menyenangkan. Bisa memakai pakaian sesuai selera yang warnanya di padu-padankan dengan tas dan sepatu. Saya (kecil) berpikir kalau kuliah itu seru, tidak ada ujian UN dan sejenisnya, dan saya suka jika harus menemani kakak saya mengerjakan skripsi. Dulu tak pernah mengerti apa itu SKS, dosen pembimbing, yang saya tahu itu bayaran untuk menjadi seorang wisudawan/ti. Ketika akhirnya kakak saya berdiri di podium salah satu universitas negeri di Depok saat itu, saya ada. Dan saya membayangkan jika saya memakai toga, tentu sangat membanggakan.

Itu dulu. Dan waktu cepat sekali berlalu, menggiring saya pada kenyataan bahwa saya akhirnya merasakan juga apa itu kuliah. Belajar, belajar, belajar, belajar, meskipun tidak sepadat semasa SMA. Kemudian, skripsi. Ya, tidak perlu banyak penjelasan apa itu skripsi. Yang pasti, sejujurnya saya belum siap ada di posisi ini.

Saya tersadar, selama tiga tahun setengah kemarin saya begitu pintar membagi waktu (anggap saja saya sombong, tapi coba tanyakan pada diri Anda, apakah Anda sanggup melakukan hal yang sama seperti saya. Oke, jangan anggap saya sombong, mungkin lebih tepat dikatakan bangga). Antara kuliah, organisasi, pekerjaan, diri sendiri, dan mengurus (beberapa) komunitas. Bohong kalau saya bilang saya tidak capek. Dusta kalau saya katakan saya tidak kerepotan. Tapi bagi saya, mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu itu menyenangkan. Saya suka jika dua puluh empat jam yang saya punya ini tidak sia-sia. Menjadi orang yang memiliki segudang aktivitas itu mengasyikkan, sebab kita tidak akan punya waktu luang sehingga waktu yang kita punya tidak akan mubazir. Akan tetapi, jujur saya akui, jam belajar saya tidak maksimal. Apa yang saya pelajari di kelas tiba-tiba menguap begitu saja di tahun ini. Sungguh kondisi ini menyiksa sekali, karena saya kesulitan untuk melangkah dalam pembuatan skripsi.

Mengeluh? Entah. Ini seperti sebuah curhatan bahwa saya sedang dalam kondisi panik. Iya, panik. Sahabat saya sudah sampai di bab dua sementara saya, untuk memulainya saya masih belum berani. Saya tidak mengeluh putus asa, hanya terkadang, kita butuh bercerita untuk meringankan sedikit beban yang ada.

Beberapa teman saya, ketika saya bercerita, menyarankan saya untuk mengurangi aktivitas di luar, untuk berhenti berorganisasi, untuk mengurangi jam menulis, dan fokus skripsi. HEY, maaf, saya tidak akan melakukan itu. Allah sudah teramat adil memberikan kita sehari dua puluh empat jam, maka saya akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dan sesuai dengan kemampuan fisik (juga hati) saya. Bagi (sebagian) para mahasiswa/i, skripsi memang segalanya, tapi bagi saya, bukan berarti saya harus FOKUS hanya untuk skripsi. Yang saya butuhkan ketika saya bercerita ini adalah;

Sebuah dukungan dari Anda dan cukup berikan saya keyakinan bahwa saya mampu dan berani untuk melangkah mengerjakan skripsi. Saya tahu saya bisa. Saya hanya sedang kebingungan harus memulainya dari mana.

Advertisements

5 thoughts on “Skripsi : Minggu Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s