Sepenggal Cerita tentang KF Roadshow Bogor

“Penulis adalah ‘Tuhan’ dalam sebuah karya yang diciptakannya,” ( @edi_akhiles , pada saat seminar di kampus fiksi roadshow )

12. 01. 14 adalah waktu yang sangat saya nanti-nantikan. Ini harinya Kampus Fiksi Roadshow.

Kampus Fiksi itu semacam training atau pelatihan khusus yang diadakan oleh penerbit Divapress dan bapak Edi Mulyono (selaku founder Divaprees) sebagai pemateri. Karena kegiatan tersebut berdomisili di Jogja dan kuota terbatas, maka dibuat lah Kampus Fiksi Roadshow di beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya di Bogor.

Saya sendiri sudah menantikan kehadirannya sejak september 2013. Beberapa kali merengek ke pak Edi via mensyen twitter agar diadakan di Bogor, sebab kota-kota sebelumnya seperti Semarang, Jogja, dsb terlalu jauh dari jangkauan saya.

Kemudian keinginan saya terkabul. Akan datang di Bogor. Dan itu tanggal 12 Januari.

Saya segera mendaftar pada 16 Desember lalu, dan mendapat urutan peserta nomor sembilan. Tibalah hari di mana saya akan mendapatkan banyak ilmu secara gratis, yaitu hari ini.

Tepat pukul satu saya sampai di lokasi (Di skip saja perjalanan sedih-jelek-ngebetein-rusuh-panik-karena-kesasar-sampai-ke-Ragunan-dan-salah-naik-kereta saya sejak pukul lima subuh hingga pukul 12 siang). First impression saya adalah, sangat puas dengan isi snack box yang begitu banyak sehingga membuat perut kenyang sepanjang acara berlangsung. Plus setiap peserta mendapat silabus menulis yang sangat berguna.

image
(Silabus dan salah satu snack bergambar emot senyuman)

Ada banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dan sungguh beruntung saya mendapatkannya. Sebab, bisa jadi pak Edi tidak memberikan ilmu tersebut kepada orang yang tidak mengikuti acara ini. Untuk Anda yang belum berkesempatan datang, berikut ini saya share sedikit ilmu yang saya dapat dari Kampus Fiksi Roadshow.

-Hal-hal yang harus diperhatikan ketika memutuskan untuk menulis sebuah fiksi-

1. Ide
Buatlah judul yang menjual agar dapat menjadi penilaian plus bagi meja redaksi, serta dapat menarik perhatian pembaca.

2. Kalimat Pembuka dalam sebuah cerita
Selalu pahami struktur SPOK dan pahami EYD. Tidak perlu hapal isi KBBI yang penting terus berlatih menulis saja agar lebih ‘kaya’ diksi dan frasa. Buatlah kalimat awal yang langsung menarik perhatian pembaca. Minimalisir penggunaan deskripsi pada kalimat pembuka.

3. Paragraf cerita
Pertahankan pembaca agar tetap membaca tulisanmu dengan membuat paragraf yang menarik. Mulai belajar membolak-balikan kalimat pasif menjadi aktif, aktif menjadi pasif.

4. Pesan Moral
Seharusnya dalam cerita fiksi tidak perlu ada pesan moral, tetapi perlu sisipkan sedikit pesan secara implisit. Tidak perlu menggurui atau berceramah. Contohnya seperti kutipan cerita fiksi milik seorang teman saya Fitri Nurul Syahidah.

____________________________________________

……

“Iya, kamu tahu; dulu saya benci matematika. Buat apa coba, merumitkan otak seperti itu! Tapi, kemudian saya tahu bahwa sesungguhnya matematika adalah belajar menyederhanakan. Rumus-rumusnya yang njelimet itu, adalah semata-mata untuk menyederhanakan lini-lini rumit dari kehidupan. Matematika itu menyederhanakan. Saya jadi tahu, bahwa menjadi sederhana adalah hal rumit. Dan rumitnya, saya belum menjadi sederhana.”

Aku berpikir sejenak, lalu menjangkau sesuatu dari dalam tas milikku.

“Ini akan menjadikanmu sederhana,” kataku sambil meletakkan Al Qur’an saku di atas tangannya. Ia nampak tercengang, matanya berkabut dalam sedetik. Semenit, ia masih hilang kata-kata. Maka aku kembali bicara.

“Kamu tahu kan, sahabatku sayang, bahwa sederhanya kita ini adalah hamba Allah yang lemah. Sederhananya, kita adalah hamba Allah yang hanya biasa, yang tak punya kekuatan apa-apa. Inilah kita, dalam bentuk yang paling sederhana; makhluk Allah yang diciptakan-Nya untuk beribadah dan menyembah Allah. Kita bukan siapa-siapa.”
Satu dua kali, air mata mulai jatuh di pipinya, menetes di atas Qur’an.

“Ini adalah konsep sederhana tentang siapa diri kita, apa yang kita cari di dunia, apa tujuan hidup kita di dunia. Kalau kamu menjadi terlalu rumit, merasa terlalu bingung, mungkin cara menyederhanakannya adalah membaca Al Qur’an ini. Kembali pada konsep super-sederhana bahwa kita adalah hamba Allah biasa.”
………

__________________________________________

See? Kira-kira seperti itu pesan implisit dalam sebuah cerita. Tapi kalau tidak mau memasukkan pesan moral sama sekali, tidak masalah. Hanya saja akan sangat disayangkan jika sebuah tulisan tidak mendatangkan mantaat bagi pembacanya.

5. Logika cerita
Ini paling penting. Terserah mau menulis cerita fiksi dalam genre apa pun, sebuah cerita harus berlogika, bahkan fantasi sekali pun harus pakai logika. Contohnya : “Aku melihat burung-burung belibis menghampiriku di malam ini.” Kalimat tersebut tidak masuk akal karena burung belibis hanya ada di siang hari.

6. Ending
Buatlah ending yang di luar dugaan. Jangan buat ending yang gila, aneh, mati mendadak, dan cerita yang berlebihan.

Kurang lebih seperti itu lah materi yang saya dapat. Semoga kita semua dapat menjadi penulis dari Indonesia yang baik dan berkualitas. Dan semoga materi yang saya tuliskan bermanfaat :))

Acara ini sangat interaktif, di mana selalu diadakan sesi tanya jawab antara pembicara dengan pemateri. Sayangnya menurut saya, sebagian pertanyaan peserta ini aneh. Sebab mereka bertanya hal-hal yang sebelumnya sudah dijelaskan pak Edi. Entahlah. Saya sih menyimak betul semua obrolan pak Edi, jadi sedikit ‘weird’ ketika sesi tanya jawab. “Apakah mereka tidak memperhatikan?” Batin saya saat itu.

Selain itu, komunikasi terus berlanjut bahkan ada pembagian buku Penjajah Cinta bagi yang bisa menyelesaikan tantangan dari pak Edi. Saya sendiri berkesempatan menjawab tantangan dan berhasil mendapat bukunya :))

image
(Buku Penjajah Cerita Cinta plus TTD penulisnya, pak Edi)

“Produktivitas menulis sebanding dengan Kualitas penulis.” (Kata bapak @edi_akhiles sebelum penutupan acara)

Lalu kegiatan ini usai pukul 16:00 wib. Saya banyak bertemu teman-teman baru. Berkenalan dengan teman-teman dari Komunitas Klub Buku Bekasi, bertemu teman-teman Komunitas Jamban Blogger, juga berkenalan dengan Mitha, Orin, dan mbak Edrida (Tiga perempuan yang datang independen) . Selepas acara, kami bertiga segera berburu buku di toko buku.

Terima kasih @Divapress01 dan @kampusfiksi untuk kegiatan positif ini, terima kasih pak @edi_akhiles untuk materi dan bukunya. Terima kasih untuk @ekalokasari atas tempatnya, dan terima kasih untuk @KlubBuku_BGR karena telah menjadi panitia acara ini.

Mungkin pesan saya sebelum tulisan ini berakhir adalah sedikit evaluasi untuk panitia Klub Buku Bogor. Tolong lebih di koordinasikan lagi, dan tidak berdiri di samping ketika materi berlangsung, ada baiknya ikut lesehan bersama peserta. Plus sediakan minimal dua orang di depan gedung untuk memberi tahu lokasi acara, atau sediakan papan/HVS sebagai tanda menuju lokasi. Dan juga, selalu tersenyum setiap saat karena panitia adalah tuan rumah sebuah acara. Terima kasih :))

Warm Regards,

@unidzalika

Advertisements

16 thoughts on “Sepenggal Cerita tentang KF Roadshow Bogor

  1. Hehee iya .. Beberapa panitia memang harus ada yang sigap di area lapangan sesuai juklaknya masing-masing. Untuk dua orang yang berdiri di depan gedung awalnya kami mau seperti itu tapi tidak jadi karena personil panitia diplot untuk hal lain. Dan di Ekalokasari tidak diperkenankan untuk menempel tanda di beberapa titik di sana.
    Sekali lagi terima kasih yaa, next be better insya Allah 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s