Ketika Kamu Menjadi Orangtua (Kelak)

*bangun-bangun tahun 2014*

Selamat malam, pembaca 🙂 Entahlah Anda ada atau tidak, saya akan tetap menulis sepanjang 2014 ini.

Pagi tadi saya berenang dengan sepupu-sepupu saya. Seusai berenang saya lekas membersihkan diri di kamar mandi dan bertemu dengan seorang anak perempuan yang menangis. Sepertinya berumur tiga atau empat tahun. Dia menangis karena ibunya malas memakaikan celana panjang miliknya. Ibunya bilang,

“Yaudah gitu aja, nggak ada yang lihat ini, lihat pun nggak bakalan ada yang suka kamu,”

“Dede malu mah (pulang tanpa pakai celana panjang, hanya (maaf) celana dalam)!”

“Mamah ribet makein-nya, bawaan udah banyak ini. Ayo pulang!”

(anaknya menangis keras, enggan keluar kamar mandi.)

“Yaelah lu, ribet amat. Bule aja begitu kagak malu!”

Saya hanya menggeleng melihatnya. Pertama, saya kagum dengan anak se-dini itu sudah mengerti malu dan paham bahwa menutup sebagian tubuhnya merupakan kewajiban. Kedua saya heran mengapa ada orangtua yang lupa mengajarkan rasa malu pada anaknya. Bagi saya, itu fatal. Saya memang belum menjadi orangtua, belum paham urusan menjaga anak. Tapi setidaknya saya akan berusaha menjadi orangtua yang tidak akan pernah membuat anaknya merasa malu atau kecewa.

Kita sebagai remaja perempuan (yang kelak akan menjadi seorang ibu), ada baiknya belajar sejak sekarang. Belajar bagaimana caranya mendidik anak yang baik dan benar, yang tidak pernah melampiaskan keinginan kita kepada anak, yang tidak lupa mengajarkan etika, sopan santun, rasa malu, paham agama, sebagai pendidikan dasar bagi mereka. Karena generasi kita dan generasi anak cucu kita-lah yang akan menjadi penerus bangsa serta agama, penerus nenek moyang dalam menyebarluaskan pendidikan, dan menjadi yang paling berperan aktif dalam melindungi alam semesta ini. Apa jadinya jika sejak dini, mereka diajarkan dengan cara yang tidak tepat.

Memang tidak ada orangtua yang sempurna, tapi selalu ada orangtua yang mampu membuat kehidupan anak-anaknya lebih baik, karena mereka dididik dengan pemahaman yang baik, dan selalu diajarkan memandang suatu hal dengan kacamata yang positif dan optimis.

Jadilah orangtua seperti tipe kedua, dan doakan semoga saya pun bisa menjadi orangtua yang seperti itu.

Selamat malam.

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Kamu Menjadi Orangtua (Kelak)

  1. Ibu itu kalah dengan si Misae (Ibunya Crayon Sinchan),karena dia selalu marah jika si Crayon Sinchan kelihatan tidak sopan :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s