Kondisi Indonesia, Mengkhawatirkan

Saya pernah ada di satu momen di mana saya merasa muak dengan kehidupan yang saya jalani. Oh bukan saya tidak bersyukur atau tidak bahagia, bukan. Maksud saya adalah, saya merasa desperate dengan kondisi di mana saya tinggal. Setiap hari di pagi buta, saya terbangun dengan penuh suka cita, ibadah subuh agar menguatkan spiritual, mandi pagi agar segar, sarapan untuk menambah energi, mendengarkan musik sejenak untuk meningkatkan mood, lantas ketika keluar dari rumah saya dihadapkan pada kemacetan lalu lintas yang membuat mood saya turun drastis. Beruntung saya jarang mengeluh soal kemacetan di sosial media yang dapat membuat orang jengah. Lain hal ketika jam makan siang, di mana saya tidak bisa mendapatkan makanan yang benar-benar sehat untuk dicerna lambung dan empedu saya. Serta maraknya pengamen jalanan yang lalu lalang, memaksa kita untuk memberinya sepeser uang. Belum lagi kepulan asap karbonmonoksida yang bercampur dengan karbondioksida, adanya bau sampah yang tercecer di jalanan, membuat saya sesak. Sulit menghirup udara bersih. Sore hari saya dipertemukan lagi dengan kemacetan, ludah yang bercecer di sekitar trotoar, bau pesing di sekitar halte bus, cipratan air kubangan yang mengenai pakaian, dan suara knalpot motor yang bising, membuat saya semakin tersiksa. Dan malam hari yang mengkhawatirkan karena kejahatan semakin merajalela. Hipnotis, jambret, copet, maling, entah apa lagi. Muak. Saya tersiksa tinggal di sini, di salah satu kota di Indonesia.

Selain itu, tayangan televisi yang sejak pagi hingga malam menayangkan acara gossip selebritis yang tidak mendatangkan manfaat, berita yang mayor mengenai korupsi, kriminalitas, kekerasan seksual, dan kemiskinan, pencitraan petinggi negeri. Sinetron yang berlarut-larut, iklan yang tidak menarik minat, acara hiburan yang malah underestimate pembawa acara nya, sungguh tidak mencerdaskan. Itu salah satu alasan kenapa saya hampir tidak pernah menonton tv. Sekali lagi, ini di Indonesia.

Saya merasa rongga hidung saya hanya bernapas agar saya tetap memberi pasokan oksigen untuk tubuh, tapi nyaris kehilangan fungsinya. Tidak bisa merasakan segarnya udara bersih, tidak bisa mencium aroma menggiurkan yang datang dari toko-toko makanan, tidak bisa membedakan kapan saya harus tutup hidung. Juga dengan mulut saya yang hanya memakan apa pun agar saya tetap bertahan hidup tapi memakan makanan yang tidak memuaskan. Makanan yang kadang malah membawa racun bagi tubuh saya dan, minuman mineral yang tidak tahu masih steril atau tidak.
Saya tidak tahu apakah keluhan ini dirasakan juga ketika saya keluar dari Indonesia.

image

Kalau keluhan ini hanya ada di Indonesia, saya harus berjuang untuk pergi ke luar negeri, mencari tempat tinggal yang layak tidak hanya untuk fisik, tapi juga untuk kesehatan mental saya. Oh, saya mengerti. Wajar saja jika orang pribumi yang pergi keluar Indonesia, enggan kembali. Mungkin mereka merasakan apa yang sedang saya rasakan, bisa jadi lebih menderita. Makanya mereka menolak pulang. Saya letih.

Bukan maksud saya menjelekkan negara saya sendiri. Ya, saya terlahir dan besar di sini. Tapi apa yang saya rasakan dulu dengan sekarang berbeda. Saya memiliki banyak kenangan manis dan masa kecil saya sungguh bahagia. Sekarang, bukannya saya tidak bahagia. Saya hanya kesulitan bernapas dan kesulitan melihat pemandangan alam yang segar. Oke, katakan saja bahwa saya tidak puas ada di sini. Somebody please bring me to some place more better than here, I beg you!

Ini curhatan saya, jangan berharap menemukan solusi di tulisan ini. Saya juga belum tahu apa solusinya dan bagaimana cara mengurangi kepedihan ini. Yang pasti, keadaan seperti ini pernah membuat saya sangat depresi, membuat saya menangis di salah satu restoran cepat saji dan membuat teman-teman saya bingung melihat saya menangis untuk urusan seperti ini. Saya tidak punya masalah dengan orang lain, dengan keluarga, dengan diri sendiri juga tidak. Masalah yang saya hadapi adalah muak dengan keadaan di Indonesia yang begitu memprihatinkan. Saya butuh seseorang yang bisa membuat saya terus berpikir optimis, bahwa negara ini akan lebih nyaman untuk di huni. Bukan sekadar menjadi negara yang lebih maju dan berkembang tapi tidak pernah nyaman dan aman untuk para penduduknya.

Dan saya harus mengadu kemana?

Saya jadi takut bekerja karena khawatir, uang yang saya hasilkan malah terbuang cuma-cuma, takut kalau uang yang saya dapatkan bukan uang halal walaupun pekerjaannya halal. Saya takut setiap makanan yang masuk kedalam tubuh saya malah membuat saya sakit dan kandungan haram yang seharusnya tidak boleh dikonsumsi, malah termakan akibat kebodohan atau ketidakteitian kita.
Saya takut dengan senjata, tapi lebih takut melihat kondisi remaja Indonesia yang semakin kehilangan jati diri. Mempraktekan korupsi sejak dini. Membanggakan negara Lionel Messi. Mengagungkan negara asal Lee Sung Gi. Meniadakan aktivitas membaca kitab suci. Melupakan budaya sendiri. Mengikuti mode terkini. Kemudian mati tanpa meninggalkan prestasi. Inilah keadaan negeri kami.

Sementara ini saya memang tidak bisa meninggalkan Indonesia selain karena belum ada uang banyak, juga karena masih jomblo, dan terjebak mengerjakan skripsi, sehingga harus bertahan dengan kekacauan yang sudah parah ini. Tugas saya selama ada di sini adalah dengan menjaga kelestarian alam yang masih ada, dan juga mengurangi kerusakan ini. Saya tidak mau menjadi orang yang menambah kekacauan, karenanya saya mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, memperbanyak tanaman segar di pekarangan rumah, menghemat air serta listrik, memberikan sedikit ilmu yang saya punya kepada pengamen jalanan, membuang sampah pada tempatnya, mengkampanyekan cinta lingkungan, dan mencoba bernapas sedalam mungkin agar lebih rileks.

Kepada siapa pun Anda yang membaca keluhan saya, bisakah Anda membantu saya untuk mengurangi kekacauan ini? Kita sama-sama tinggal di satu negara, kita pula yang pernah membuat kerusakan ini, maka ini waktunya kita mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki Indonesia. Alam sudah memberikan banyak hal untuk kita, saatnya kita memberikan perlindungan untuk mereka.

Tolong bantu saya, sekecil apa pun tindakan tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s