Pemikiran Random

Anda bisa menebak, kali ini saya mau membahas apa? :))

Saya mau membahas tentang…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jodoh.

Mungkin agak terlalu dini membahas ini, soalnya umur saya masih 21 tahun, wajah masih imut-imutnya untuk diabadikan dalam foto. Tapi, melihat tumpukkan kartu undangan pernikahan, dan megingat padatnya jadwal kunjungan ke pernikahan tersebut, saya tergelitik untuk membahas tentang jodoh.

Jodoh itu apa sih?

Jodoh itu bukan seperti sepasang sepatu yang memang sejak lahir sudah berdua. Jodoh juga bukan truk gandengan yang sering dilihat orang. Jodoh bukan pasar terkenal di Jakarta. Itu Glodok. Jodoh bukan sayuran hijau dengan bihun yang berkuah bening dan enak disantap siang hari. Oke itu namanya sayur lodoh. Lodeh deng. Jodoh itu kalau kamu jatuh lalu mengaduh, JODOH, sakit banget nih!

Oke cukup.

Jodoh adalah match. Jodoh itu seperti garam dan gula yang saling melengkapi. Seperti kopi dan susu yang memiliki perbedaan. Seperti daging sapi dan mayonnaise dalam kebab. Seperti sate padang dan kripik singkong. Seperti bakso dengan sambal. Seperti gulai kepala kakap dengan daun singkong, *Jadi lapar*. Intinya, jodoh itu adalah pasangan. Iya, karena kita manusia maka jodoh kita seharusnya manusia juga.

Kalau dalam agama islam, disebutkan setiap dari kita diciptakan berpasang-pasangan. Dalam ayat lain dikatakan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Kalau secara general, katanya jodoh itu nggak jauh dari aktivitas keseharian kita. Misalkan kamu rajin ke rumah ibadah, tentu pasangan kamu ada di sana juga. Atau kalau kamu kerja di salah satu tempat klub malam, maka akan di sanalah jodoh kamu. Bagi saya itu stereotype sih. Nggak baik percaya itu!

Menurut saya, jodoh itu keberadaannya sangat dekat. Namun kita terlalu sering melihat yang jauh sampai lupa bahwa yang kita cari ada di dekat kita. Prmasalahannya adalah, kalau kita ingin mendapatkan jodoh yang baik, tentunya kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu. Itu sih, menurut saya. Dan proses memperbaiki diri itu sedang saya terapkan, doakan saya menjadi perempuan yang dicemburui bidadari surga ya. Amiin…

Saya pernah punya pengalaman. Saya yakin sekali kalau dia jodoh saya. Saya berdoa pada Tuhan agar kami baik-baik saja dan dipermudah dalam urusan menuju masa depan. Kami membicarakan ini itu, mencatat ini itu, berharap ini itu. Ternyata, seyakin-yakinnya, saya hanyalah manusia yang bisa berencana. Sebab, Tuhan justru memisahkan kami dengan cara yang sangat sederhana. Elah. Ini sih parah, yakin selama setahun, nggak bisa ngelupainnya bisa bertahun-tahun. Okesip ini curcol.

Maksud saya begini. Kalau kamu dan dia saling suka, segerakan daftar nama kalian ke KUA. Kalau memang belum yakin untuk melangkah kearah yang sejauh itu, jangan kotorin hati kamu dengan pacaran. Kotor? IYA! Hati kamu kotor plus nimbun dosa. Karena pacaran dilarang dalam agama islam. Kok islam ribet, sih. Ini itu nggak boleh, pacaran aja masa nggak boleh?!

Oke, saya jelaskan.

Saya bukan pakar agama. Saya juga tahu, dalam kitab suci tidak tertulis adanya larangan berpacaran. Yang dilarang adalah berkhalwat (berduaan padahal bukan mahrom) dan melakukan perbuatan yang dilarang seperti bersentuhan, berciuman, berpelukan, padahal bukan siapa siapa atau tidak ada hubungan sedarah. Ini dilarang ya sob.

Tapi jatuh cinta itu tidak dilarang. Selama kita bisa mengolahnya dengan baik dan benar. Dan semoga kita jatuh cinta kepada jodoh yang memang sudah ditakdirkan menjadi pasangan. Jatuh cinta-lah pada orang yang tepat. Jatuh cintalah dengan orang yang mencintai kamu duluan. Nggak ngerti gimana teorinya, menurut orang-orang zaman dulu, kita akan bahagia kalau menikah dengan orang yang mencintai kita, selebihnya cintailah orang tersebut.

Buat saya prbadi, saya dapat dengan mudah melihat mana orang yang baik atau tidak. Pernah ada seorang teman yang tiba-tiba menggandeng tangan dan dalam sekejap saya menyimpulkan dia bukan orang baik. Kenapa? karena kalau dia jadi jodoh saya, pasti sudah pernah menggandeng tangan wanita lain sebelum saya.
Pernah juga, ada yang meludah sembarangan ketika sedang bersama saya. Beuh, untuk kasus ini kepedulian saya terhadap dia menurun 80% . Atau saat seorang kawan yang dengan mudah mengajak nonton lah, jalan lah, liat futsal lah, kesana kesini, yang langsung saya tolak. Kalau dengan saya yang bukan siapa-siapa sudah begitu, bisa jadi dia pernah atau akan seperti itu ke wanita lain. Heh ini kenapa jadi curcol lagi sih.
Yang pentig kita harus bisa menilai apakah dia baik atau tidak buat kita.

Berat nggak sih bahasannya? Sabar. Rileks. Setelah ini akan lebih berat 🙂

Salah satu teman saya memposting sebuah status di wall facebooknya. Begini katanya :

Bagaimana cara kita membedakan cinta yang merupakan jebakan syetan, dengan cinta yang benar-benar datang dari karunia Tuhan?

Uwoh! Somebody please answer that question!!! *pingsan*

Adanya pertayaan tersebut membuat saya teringat dengan seseorang dari masa lalu yang mengirim pesan dan mengatakan : Saya tahu bertemu kamu adalah sebuah anugrah yang Tuhan kirimkan. Mencintai kamu adalah karunia yang tuhan berikan meskipun saya tidak tahu apakah ini datang di saat yang tepat atau tidak.

Well, kalau kamu perempuan dan mendapat pesan tersebut tolong jangan segera melayang karena pada akhirnya cinta tersebut kandas dan kita tidak bisa menyalahkan Tuhan. Pertanyaan besar, apakah yang dia katakan benar, bahwa cinta yang dia rasakan karunia Tuhan? Saya rasa tidak. Kalau saya adalah anugrah Tuhan, mungkin benar.

Jadi, bagaimana cara membedakannya?

Saya juga tidak tahu.

Kalau menurut pandangan saya, setiap orang dapat membedakan ketika mengalaminya. Cinta yang karunia dari Tuhan, biasanya kamu akan ngerasa cocok banget sama orang itu semacam di customized sama Tuhan. Itulah jodoh kamu. Sedangkan pertanyaan teman saya di atas, kita juga nggak tahu gimana membedakannya. Kalau kata kakak saya sih, solat istikhoroh adalah jalan yang paling tepat. Solat istikhoroh adalah solat dua malam yang bertujuan untuk minta petunjuk dari Tuhan harus memilih yang mana, dan minta diyakinkan apakah itu baik buat kita atau tidak.

Jadi berat banget kan bahasannya!

Well, membahas jodoh bukan berarti saya menginginkan menikah cepat. Walaupun sudah banyak teman-teman seusia saya yang menikah, bukan berarti saya ingin segera menyusul. Seperti yang sudah saya jelaskan, masih banyak hal yang harus dibenahi, plus saya anak bungsu di mana saya harus lebih banyak meluangkan waktu untuk terus bersama orangtua saya.

Belum mau menikah muda, bukan berarti saya harus pacaran, tidak. Saya jauh dari aktivitas tersebut. Lebih baik kita sibuk memperbanyak aktivitas biar banyak pengalaman, hehe. Tidak pacaran pun, bukan berarti saya tidak sedang jatuh cinta. Memang sih, untuk sekarang ini saya tidak berminat dalam urusan tersebut. Tapi kalau ditanya kapan saya menikah, jawab saya,

“Doakan saja secepatnya.”

Anyway… Jodoh sayaaaaaa, kamu di mana sih?! Jangan bikin saya kelamaan menunggu.

p.s : Sedang menyelesaikan tugas akhir penelitian lapangan tapi otak hanya memikirkan jodoh saya di mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s