YOLO :))

Hampir seluruh kerabat yang mengenal saya, mengatakan saya aneh. Betul. Saya berbeda dengan kebanyakan perempuan lainnya. Saya tipe orang yang kalau diam artinya tidak setuju, mengangguk tanda setuju, bilang “terserah” artinya tidak berminat, dan kalau saya katakan “tidak” artinya memang tidak. Salah satu hal yang paling saya benci adalah ketika saya sudah berkata “tidak” tapi masih saja terus ditanya berkali-kali agar saya bilang “iya” . Contohnya seperti ibu saya yang sering mengulang pertanyaan hingga lima kali meskipun jawaban saya tetap tidak. Suka desperate sendiri kalau ditanyain terus, hahaha. Intinya, kita jangan suka menyamaratakan orang dengan kalimat “Ah, semua perempuan sama saja.” karena saya adalah salah satu orang yang berbeda dengan perempuan lain.

Omong-omong soal berbeda, saya juga kesulitan dalam suatu hal. Begini ceritanya. Beberapa hari yang lalu saya dan teman-teman dekat mendapat bahan spandex glitter dengan ukuran satu setegah meter. Seorang di antara kami akan segera menikah dan dia berharap kami menjadi panitia kecil dalam acaranya. Bahan tersebut menjadi hak milik kami serta bebas mau seperti apa modelnya. Tahu kan, seperti apa rempong-nya teman-teman saya? (Kalau belum tahu, ada baiknya baca ini dulu Kegiatan Menyehatkan ” untuk lebih mengenal mereka.) Dan saya pun ikut ribet harus memilih model apa. Dengan ukuran bahan yang kurang dari dua meter, mereka akhirnya sepakat membuat long dress yang dihiasi dengan brukat dan sejenisnya. Tapi saya, berbeda. Saya memutuskan hanya menggunakan bahan tersebut untuk menjadi rok panjang. Jauh lebih ribet karena harus mencari atasan untuk saya kenakan. Biar pun begitu, buat saya, berbeda itu unik. Selama orang di sekitar bisa menerima perbedaan, tak ada masalah sepertinya. Di sinilah kesulitan saya. Harus membeli kaus, membeli blazer atau mungkin cardigan, belum lagi peralatan make up yang kurang (dulu lengkap tapi sudah saya bagikan ke beberapa orang), bingung model kerudung, belum sepatunya, tas, dan lain-lain. Ribet kan? :)) Saya mau memaksimalkan penampilan dengan budget minimal, pokoknya harus tampil tanpa cacat đŸ˜€ . Selain karena pernikahan ini adalah pernikahan dua sahabat saya, lain hal saya berkesempatan menjadi pembawa acara dalam pernikahan ini, di mana profesi tersebut adalah passion saya.

image

(Ketika saya menjadi pembawa acara salah satu kegiatan di kampus pada tahun 2012)

Selain menulis, membaca, dan window shopping, menjadi pembawa acara juga passion saya. Kebanyakan, ya? Tapi saya suka empat itu. Membaca menambah wawasan saya, menambah ruang imajinasi, menambah minus mata juga. Sedangkan window shopping membuat saya senang walau tidak membelinya. Saya suka melihat barang-barang unik, mengamati model baju, memperhatikan yang sedang trend, memantau jenis cincin, dsb. Ada kesenangan tersendiri bisa berkeliling memanjakan mata padahal kaki lelah. Lain lagi dengan passion saya sebagai pembawa acara, yang menjadi jembatan antara panggung dan bangku penonton, antara pembicara dengan pendengar, antara idola dengan fans. Saya suka berada di posisi sebagai jembatan tersebut. Saya memang masih sedikit pengalaman, namun selalu berusaha menjadi penghubung yang baik bagi kedua belah pihak. Tapi kecintaan saya terhadap menulis jauh lebih besar dibandingkan dengan tiga hal di atas. Saya bahkan berpikir, kelak ketika sudah menikah nanti, saya enggan bekerja kantoran. Saya mau di rumah, bekerja di depan layar, menulis berlembar-lembar, membaca banyak buku, sehingga lebih banyak waktu untuk mengurus keluarga. Saya yakin dengan begitu, saya sudah memaksimalkan passion saya.

Lagi-lagi, saya berbeda. Passion yang saya punya dengan passion keluarga. Puluhan tahun silam Papa dan Bundo saya adalah workaholic di bidang wiraswasta. Papa membuka percetakan dan ibu membuka usaha menjahit. Di masa sekarang, kakak laki-laki saya membuka usaha percetakan dan kakak perempuan saya menekuni bidang menjahit serta kerajinan tangan. Saya? Menulis. Entah datang dari mana perbedaan yang saya miliki. Ibu saya berkali-kali menyarankan untuk kursus menjahit agar saya bisa meneruskan pekerjaannya namun saya enggan. Bukan di sana passion saya. Saya tidak pernah akrab dengan benang, jarum, atau kain. Saya tidak akan pernah berkerja untuk suatu hal uang tidak saya inginkan. Perbedaan pola pikir dan passion saya dengan orang lain, tidak menjadi hambatan dalam hidup. Saya justru sangat menikmati ketika saya menjadi yang berbeda.

Poin penting yang saya maksudkan dalam tulisan kali ini adalah, just be your self, knowing your passion, and do anything what you wants to do, because you only life once. (Ini motto hidup saya).

Buat kamu di luar sana yang juga punya passion berbeda dengan orang lain, bersyukurlah. Kelola dengan baik.

Nb :
– Diikutsertakan dalam #MTR2013 .
– Menulis ini sambil ditemani lagu Let It Go -nya Demi Lovato.
– Mohon maaf karena pembahasan di sini agak ‘berantakan’ karena otak saya juga sedang ‘berantakan’. Kemarin memori saya tercecer dan sekarang seperti puzzle yang belum tersusun. Tema menulis adalah “passion” tapi beberapa paragraf awal malah membahas hal lain.
– Doakan semoga pernikahan dua sahabat saya lancar.
– YOLO artinya You Only Life Once.
– Semoga tulisannya tetap bermanfaat untuk pembaca.

Advertisements

3 thoughts on “YOLO :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s