Review film ala Uni : 99 Cahaya di Langit Eropa

Judul film : 99 Cahaya di Langit Eropa
Tanggal rilis : 5 Desember 2013
Genre : Drama, Reliji
Produksi : Maxima Pictures
Pemain : Acha Septriasa, Abimana Ariasatya, Nino Fernandez, Dewi Sandra, Raline Shah, Marissa Nasution, Alex Abbad, Gecchae.
Sutradara : Guntur Soeharjanto

image

Finally nonton juga πŸ˜€ Meskipun udah dua minggu yang lalu tayang perdana, tapi film ini masih ramai diperbincangkan dan saya pun baru sempat menontonnya. Film ini diangkat dari novel laris (yang novelnya belum saya baca) karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Nah, film ini tuh menceritakan perjalanan Rangga Alamahendra (Abimana Aryasatya) dan Hanum Rais (Acha Septriasa) sebagai suami istri, yang sedang mencari 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua Eropa. Ketika di Eropa, ada beberapa kesulitan yang mereka hadapi terkait dengan agama. Mereka pergi ke Eropa karena Rangga sedang mengambil studi di salah satu universitas ternama, dan di kampus tersebut Rangga berteman dengan Stefan (Nino Frenandez), Khan (Alex Abbad), dan Maarja (Marissa Nasution) . Sementara Istrinya, Hanum memutuskan untuk kursus bahasa Jerman yang kemudian bertemu dengan imigran asal Turki bernama Fatma Pasha (Raline Shah) bersama anaknya Aisye (Gecchae) . Mereka akhirnya mengunjungi beberapa wilayah di Austria dan Fatma menjelaskan semua sejarah islam yang tertinggal di benua Eropa. Pada suatu waktu, pasangan suami-istri (Rangga-Hanum) ini diharuskan pergi ke Paris untuk menyelesaikan suatu urusan, kemudian mereka bertemu dengan Marion (Dewi Sandra), yang juga mengajak Hanum menjelajahi peninggalan sejarah islam di Paris.

Udah, gitu aja intinya.

Pada part satu, film ini mengambil lokasi di dua Negara Eropa yaitu, Vienna (Austria), dan Paris (Prancis). Kesan pertama saya : Setting tempat bagus, wajar. Sebab pengambilannya di luar negeri yang teratur, bersih, tanpa sampah, bangunan khas, pokoknya tempat tanpa cacat, tapi disajikan dengan sangat natural tanpa berlebihan. Film ini juga didukung oleh para pemain yang sangat menguasai karakter masing-masing. Saya nggak ngerti akting, tapi dari tayangan tersebut terlihat mereka akting begitu wajar. Pasangan Hanum-Rangga juga terlihat cocok. (Tapi menurut saya Fatma dan suaminya kurang pas). Saya jatuh cinta pada akting Dewi Sandra yang hanya tampil sebentar tapi begitu kuat dan selalu diingat.

Di beberapa bagian, film ini menceritakan tentang toleransi terhadap lintas agama dan bagusnya, film ini tidak sedikit pun ada unsur menjelekkan agama lain. Ini film bernuansa islami yang segar dan jauh dari cerita poligami. Di sini juga diceritakan bagaimana kita harus bersikap kepada orang yang sudah berlaku jahat. Saya suka alur filmnya yang maju namun di beberapa sesi ada kilas balik untuk mempertegas cerita. Kekuatan dalam film ini ada di fasihnya para pemain berbicara bahasa asing (Jerman, Inggris, Perancis) walaupun film ini tidak sepenuhnya berbahasa asing. Ada campuran bahasa Indonesia dalam setiap percakapan agar penonton tidak terpaku pada subtitles. Oh ya, dalam film tersebut ada juga penampilan khusus dari desainer muslimah Dian Pelangi sebagai Latife, dan juara X Factor Indonesia Fatin Shidqia Lubis sebagai Fatin. Uhmm…. Tonton sendiri deh, yang jelas waktu saya menonton, satu bioskop tertawa saat Fatin muncul. *No spoiler*

image

Di awal sampai pertengahan film, saya masih menikmati film yang secara apik menggiring penonton untuk mengetahui sejarah islam. Nggak sampai membuat saya terbengong-bengong sih, karena waktu zaman SMP saya sudah dijejali sejarah islam tersebut. Tapi cukuplah membuat kita kagum pada pada setiap jejak visual sejarah yang ditampilkan.

Saya menunggu datangnya klimaks puncak tapi itu belum juga terjadi sampai film ini mau berakhir. Justru, saya mendapat kejanggalan di satu scene pada saat Rangga dan Khan harus memilih antara ujian atau solat jumat. Ketika akhirnya ujian berlangsung, pengawas ujian berkata, “Two missing. Anyone knows where are they?!” Lalu disambut dengan gelengan dari para mahasiswa. Di sana pengawas menyebutkan kata “two” padahal yang tidak mengikuti ujian hanya seorang. Teng tong! Ini kesalahan, ketidaktelitian, atau saya yang tidak mengerti maksudnya? Entahlah. Selebihnya baik. Hanya saja buat saya pribadi, film part satu ini tidak menimbulkan kesan mendalam, tidak membuat saya berkata “Oh, ternyata…” Atau, “Hah masa?!” Ekspresi semacam itu tidak saya dapatkan. Ada yang kurang kuat dalam cerita ini. Bahkan keluar dari biskop, cerita yang baru saja diputar menguap begitu saja dalam ingatan saya. Mungkin, mungkin karena saya pecinta adegan klimaks rumit yang ternyata tidak terjadi di sini.

Saya juga kurang suka di adegan saat Hanum berkata kepada suaminya, “Saya suka banget sama Eropa karena meninggalkan jejak sejarah islam yang bla bla bla,” . Indonesia juga banyak kok sejarah Islamnya. Iya ini film memang setting nya di luar negeri. Boleh jadi saya yang cinta Indonesia agak terganggu dengan kalimat tersebut. Justru, bagi saya, ada baiknya ini film ditonton oleh orang-orang yang tinggal di Eropa, apa pun agamanya. Hal lain yang tidak saya suka adalah kesalahan kecil yang fatal. Kebanyakan adegan meminum dengan tangan kiri. Sepele sih, tapi kalau mau nuansa islaminya kuat, mestinya kebiasaan menggunakan tangan kanan mesti diterapkan. Kejanggalan satu lagi saat adegan di mana mereka solat ketika di ruangan tersebut terdapat salib, yang semestinya solat tidak sah.

Overall film ini bagus dan bisa ditonton oleh semua umur, semua agama, semua gender. Film ini mampu mengangkat kisah cinta, persahabatan, agama, toleransi, kebudayaan, dan kekayaan sejarah islam. Recommended untuk ditonton apalagi untuk kamu yang suka dengan bahasa Jerman. Kamu bisa nonton tanpa harus melihat subtitles nya hehe. Saya tetap menantikan film part dua nya karena penasaran juga akan seperti apa endingnya, semoga lebih memuaskan. Akting Nino Fernandez adalah yang paling saya nantikan di part dua. Ninoooo I love you, so much! Oke, dicukupkan dulu, sebab kalau terus dilanjutkan tulisan ini akan ngawur.

Selamat menonton dan selamat ulang tahun untuk Maxima Pictures! :))

Nb : foto aktris diambil di akun @film99cahaya

Advertisements

19 thoughts on “Review film ala Uni : 99 Cahaya di Langit Eropa

  1. Aku udah nonton juga mba, tayang di bioskop langsung aku serbu, heheee

    Ceritanya seru dan menarik. Cuma menurut aku yang di part 1 nya jalan ceritanya datar-datar aja, padahal aku nunggu klimaksnya, kayaknya di part 2 bakalan lebih seru dan menantang.

    Siap nonton yang kedua mba???

  2. ceritanya bersambung toh? eh tapi kenapa pada tertawa waktu Fatin keluar? kalo baca dari review nya Uni, kayaknya film ini kurang menarik ceritanya, hanya kuat di visual, setting lokasi dan karakter saja.

  3. Kemarin jg udah nnton itu, tp kynya filmnya ko malah jd antiklimaks ya? Nilai islaminya jg cuma sedikit. Rangga, yg kk kira bakal jd role model muslim yg baik, ternyata malah melakukan kesalahan2 syar’i. Contohnya ketika rangga dan khan diminta untuk shalat d tempat peribadatan yg d dlmnya bnyak patung, dupa dan salib. Khan udah bilang “gua ga yakin shalat kita sah”, tp rangga malah bilang “yg penting niatnya.”
    Padahal kita dilarang shalat d tempat yg ada salibnya. Terus ketika dia lebih milih ujian drpd shalat Jumat. Yg lain lagi..pas stefan nanya “Apa benar Tuhan kamu ada/ kantor Tuhan kamu dimana?” Naah…kk kira disitu rangga bakal ngasih argumen2 yg bagus, karna momen itu adalah saat yg tepat untuk membuktikan eksistensi Tuhan “Allah”. Tapiii…dia malah pucat ga ngasih jawaban, dan sebelumnya malah bandingin shalat puasa dan zakat itu sebagai “premi asuransi”. Padahal sama sekali ga ada hubungannya..bahkan dlm Islam asuransi itu hukumnya haram karna masuk k dlm kategori ‘riba’. Oiya terus lg, seorang muslim dan suami yg baik seharusnya menyuruh istrinya berhijab, hmm tp ko malah dibiarin aja yh? Film ini sebagian besar memang ingin memperlihatkan keindahan eropa. Dari sebelum nnton, udah ga berharap bakal ada nilai2 islami yg banyak disini.
    Karna walau bagaimanapun, itu hanya akting dan kepura2an. Yah…cape jg nih ngetiknya haha udh
    kebanyakan. Kalo posting lg d blognya let me know ya dza, I’d love to read it ^^

  4. Aku akhirnya jg nonton,krn penasaran. Lokasi syuting aja di eropa,pemandangannya pasti apik dong. Liat sekilas di cuplikan session 2,kayaknya banyak permasalahan, ehhmm sptnya si marissa nasution nih yg jd “biang keladinya”

  5. Menurutku review Uni kurang panjang (dikiiit). Ehehhe..
    Waktu baca inti cerita filmnya, “Lho, kok cuma gitu intinya?”
    Jadi kurang tertarik buat nonton.
    Boleh tau, Uni kasih rating berapa buat film ini?
    Soalnya dari review ini, kesannya filmnya kurang amazing.
    (+_+)

  6. Hehehe intinya memang cuma itu kak, tapi banyak bumbu2 segar di setiap adegan. Tapi, aku kasih dua setengah dari lima bintang deh ya. Greget nya kurang dapet di part satu. semoga part dua nya memuaskan.

  7. Salam kenal, Mbak Dzalika Chairani…
    Mbak Dzalika Chairani suka bahasa german ya? Kalo iya, boleh minta diajarin buat nulis percakapan bahasa german di film 99 Cahaya di Langit Eropa (part 1) ndak? Perlu untuk bahan tulisan nih.
    Terima kasih.

    1. Halo, iya saya suka belajar bahasa meskipun tidak lancar. Untuk percakapan film dalam bahasa Jerman, bisa kakak cek di Google, mereka menyediakan script film yang bisa kita kopas (tentu dengan mencantumkan sumber ya). Coba kata kuncinya : Script Film 99 Cahaya di Langit Eropa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s