Cara Saya Mencintai Kamu

Membahas cinta memang nggak akan ada habisnya. Seperti cinta saya pada seseorang yang tak akan pernah habis, selalu bertambah, dan saya tahu, dia juga mencintai saya meskipun dia belum tahu apa itu cinta. Lelaki yang saya cintai bernama Dzaky. Muhammad Dzaky Atqia, lengkapnya.

Saya sudah mengenalnya dari sejak dia lahir. Pada awalnya saya cemburu dengan kelahiran dia, karena saya merasa semua kasih sayang kakak saya akan seratus persen diberikan kepada Dzaky. Saya merasa kakak saya akan lupa dan mengurangi jatah kasih sayangnya pada saya, tapi saya salah. Cintanya kakak kepada saya tidak berkurang satu persen-pun. Dan, saya malah jatuh cinta dengan Dzaky, anaknya. Jatuh cinta, sayang, dan sangat senang dengan kehadirannya. Saya jatuh cinta seakan dia anak saya.

image

( orangtua Dzaky saat di Jawa Timur ketika dia berumur setahun )

image

Itu foto dia waktu umur dua tahun. Maaf jelek fotonya karena itu file di komputer yang saya foto dengan ponsel, hehe.

Saya sebenarnya tidak suka anak kecil, tapi yang mengherankan, anak kecil suka saya dan mereka mau dekat dengan saya, bahasa gaul-nya ‘lengket sama anak kecil’ . Begitu pun dengan Dzaky, yang lengket dengan saya. Kadang kami berebut suatu hal yang di akhiri dengan kalimat dari ibu saya, “Kalau lebih besar harus mengalah dong!” Tapi saya tetap tidak mau mengalah. Kadang saya selalu kesal dibuatnya, tapi saya lebih sering membuatnya menangis, hehe. Saya juga diberi kebebasan oleh kakak saya untuk membawa dia kemana saja tanpa pengawasan orangtua. Jadi, sejak usia tiga tahun Dzaky sudah sering saya bawa kemana-mana. Ke kampus, ke mall, ke taman, ke rumah makan, dan pulangnya dia menginap di rumah saya. Dzaky artinya cerdas, dan seperti namanya, dia memang sangat cerdas. Saya paling susah bangun pagi, tapi Dzaky selalu bangun jam lima kurang, bergegas ambil wudhu, solat, mandi. Pernah, saat umur dia lima tahun, dia membangunkan saya dengan kalimat,

“Katanya jadi ketua di kampus, tapi kok bangun kesiangan mulu.” Ujarnya kalem. Tanpa dosa. Saya segera bangun saat itu juga. Dia ngomong begitu karena pemikirannya, bukan karena diajari orang lain. Atau ketika keluarga besar sedang kumpul dan saya diam di dalam kamar, dia akan berujar seperti,

“Kenapa sih kalau liburan kok kamu kerjanya tidur terus. Abang kan mau main.”

Keluarga saya tertawa mendengarnya. Dia sangat cerdas. Sopan, rajin, dan sekecil itu sudah pandai membaca Al-Quran. Pernah ketika jalan-jalan, tiba-tiba dia bertanya pada saya kelanjutan suatu ayat karena dia lupa. Keren ya, sepanjang perjalanan dia komat kamit membaca surah yang dia hapal. Saya sempat gelagapan karena takut salah menjawab. Esoknya saya rajin membaca Quran agar, ketika dia bertanya saya bisa menjawabnya. Pernah juga dia bertanya bahasa arab suatu kata dan saya cuma bengong, saya juga lupa. Jadi, kalau anda mau brtemu Dzaky, anda harus punya banyak ilmu karena dia banyak bertanya. Didikan orangtuanya yang sangat bagus membuat Dzaky menjadi seperti itu.

image

( sedang bergaya di kamar saya lebaran tahun 2013 kemarin )

Dia sudah besar sekarang. Dia sudah bisa membaca sejak usia dua tahun lebih, juga selalu bertanya sejak dia bisa berbicara. Seperti :

“Stasiun itu apa?”

“Stasiun itu tempat menunggu kereta.”

“Kereta itu apa?”

“Kereta itu kendaraan yang jalan di atas rel.”

“Rel itu apa?”

Saya menghela napas sebentar, lalu menjawab lagi, “Rel itu jalanan untuk kereta, dari besi, tengahnya ada batu kerikil”

“Kenapa di isi batu kerikil?”

“Soalnya batu kerikil nggak kayak tanah yang nyerap air, jadi kalau hujan aman, nggak bikin longsor dan nggak bikin jalanan kereta licin.”

“Kok jalanan kereta? Katanya tadi kereta jalan di atas besi?”

“…”

“Nggak bisa jawab ya?”

Saya nyengir. “Iya, bingung ah.”

Begitulah. Percakapan itu terjadi sekitar umur berapa ya, saya lupa. Pokoknya ketika dalam perjalanan menuju ke rumah saya.

image

image

image

Saya cinta dia, cinta yang berbungkus sebagai seorang keluarga, ibu, kakak, tante, saudara. Dia sudah masuk sekolah dasar, nilai-nilainya memuaskan. Dan dia, sekali lagi saya tekankan, dia cerdas. Kalau dia dikasih uang, dia akan simpan uangnya untuk membeli buku bacaan.

“Nih. Uang buat beli ciki.”

“Gamau ah, ciki ada MSG nya. Beracun.” Kata Dzaky tegas.

“Yaudah beli eskrim aja.”

“Nggak mau juga, eskrim ada pewarna makanannya. Bahaya.”

“Beli permen aja sebungkus kalau gitu.”

“Jangan, permen ada pemanis buatannya. Nanti sakit gigi.”

“Yaudah yang aman aja beliin bisuit kek atau roti.”

“Itu juga nggak bagus, ada pengawetnya.”

Yang ngasih uang mengehela napas, “terus, mau buat apa uangnya?”

“Buat beli buku aja. Atau ditabung untuk beli sepatu.”

“…”

See? Jawaban Dzaky bukan diajari seseorang. Dia berpikir sendiri. Saya kalau dapet uang buat beli pulsa aja deh, soalnya makanan berbahaya πŸ˜€

Hari ini, 12 12 2013, dia ulang tahun. Bertambah umurnya, bertambah ilmunya, bertambah rasa ingin tahu-nya.

image

Banyak doa yang tidak perlu saya tuliskan di sini, dan saya yakin orangtuanya pun punya segunung doa yang terus dipanjatkan untuknya. Kelak, ketika dia sudah cukup umur untuk tahu tentang sebuah perasaan bernama cinta, saya berharap Dzaky akan memberikan cinta pertamanya untuk orangtuanya, nenek-kakeknya, adik-adiknya, saudara sepupupunya, guru-gurunya, teman-temannya, kemudian saya.

Hai Dzaky, esok, ketika kamu sudah bisa membaca tulisan saya yang panjang ini, saya mau kamu tahu, semua keluarga mencintai kamu. Dan saya, dengan segala ke-usil-an saya sama kamu, dengan segala kegalakan saya, dengan semua bentakan dari saya, dengan semua perbuatan yang membuat kamu kesal, dengan cara itulah saya sebenarnya mencintai kamu, Keponakan paling cerdas. Dan cinta saya ke kamu tidak akan berkurang sekali pun saya punya anak sendiri di kemudian hari.

Sincerely,
Your Aunty.

Diikutsertakan dalam #MTR2013 , tema : love .

Advertisements

12 thoughts on “Cara Saya Mencintai Kamu

  1. bagus dzal, bukan tulisanmu aja yang bagus, isi nya ngena banget aku ikut kebawa emosinya , terharu sampe ikut bangga ke dzaky. kamu dan dzaky semoga selalu bersama dalam cinta πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s