Dedikasi untuk Negeri

Suatu malam saya mendapat pesan dari salah satu kakak kandung (sudah berkeluarga dan tidak tinggal serumah lagi dengan saya) yang isinya meminta saya untuk mengoreksi tulisan bahasa Inggrisnya. Dia bukan sedang belajar bahasa asing, tetapi dia mencoba untuk mempromosikan salah satu rumahnya menggunakan bahasa Inggris.

Kakak memilikki hobi membeli rumah, lalu menjadikan rumah tersebut sebagai tempat kontrakan, dan saya akan menjadi bagian marketing untuk urusan itu. Tapi pada malam di mana dia meminta saya mengoreksi tulisan promosinya, saya enggan. Saya merasa janggal. Menurut saya bahasa asing tidak semua lapisan masyarakat dapat mengerti tulisan tersebut. Kemudian saya membetulkan serta memodifikasi dengan bahasa Indonesia yan sesuai dengan ejaan menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Saya merasa, kita sebagai warga Indonesia terlalu sering mengedepankan gengsi terhadap lingkungan. Berlomba-lomba menggunakan bahasa asing untuk beberapa kegiatan sementara penggunaan bahasa Indonesia saja masih kurang tepat. Apakah kita malu atau telah lupa pada negara ini? Contohnya saja, penulisan kata ‘di mana’, kebanyakan org menulis ‘dimana’, atau menulis kata ‘merubah’ padahal yang benar ‘mengubah’, atau menulis kata ‘berpikir’ dengan ‘berfikir’, dsb.

Masyarakat Indonesia, selain sering menggunakan bahasa asing, juga sering memakai bahasa slang atau bahasa sehari-hari. Sehingga tak sedikit yang akhirnya lupa pada bahasa baku. Contohnya, kita memakai kata ’sendawa’ untuk istilah mengeluarkan suara saat kekenyangan atau masuk angin. Padahal sendawa tidak ada dalam kamus KBBI dan untuk istilah tersebut dinamakan ’serdawa’ , dll.

Saya mulai mencoba untuk mencintai bahasa Indonesia dengan cara menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai keadaan. Mungkin
dengan begitu, bisa menjadi salah satu dedikasi saya terhadap negara yang (terlihat) sudah maju dan berkembang ini. Mungkin untuk pengguna smartphone bisa mengunduh kamus KBBI atau Thesaurus agar bisa mencari tahu kata apa yang tepat untuk digunakan. Pintar dalam bahasa asing boleh, tapi kita harus pintar juga menguasai bahasa kita; bahasa Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s