Review : Sunset Bersama Rosie

image

Judul : Sunset Bersama Rosie
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Mahaka Publisher
Halaman : 429
Terbit : 2012
Kategori : Fiksi Indonesia

Apakah dunia memang begitu? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya —Tegar, p. 403

Ya, Tere Liye adalah penulis favorit saya sejak pertama kali bukunya keluar. Menjadi pengagum berat, menyukai semua bukunya, dan semakin lama kesal karena ada beberapa bukunya yang ternyata jauh dari sempurna. Salah satunya adalah Sunset Bersama Rosie. Buku terbitan 2012 ini malah saya baca di akhir tahun 2013 yang entah tanpa alasan serius, saya tidak terlalu bersemangat membacanya. Buku tersebut banyak yang memujinya dan menyuruh saya membaca. Akan tetapi ketika membacanya, ternyata meruntuhkan ekspetasi saya yang berharap bisa menyentuh hati.

Sunset bersama Rosie bercerita tentang Tegar yang puluhan tahun mencintai Rosie, temannya sejak kecil. Tapi Rosie Menikah dengan sahabat Tegar bernama Nathan dan mereka mempunyai empat anak yang begitu akrab dengan Tegar. Tegar begitu sayang dengan Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili.Konfliknya berlanjut, ketika Tegar harus bertunangan dengan seorang gadis bernama Sekar namun terpaksa batal karena suatu hal. Kemudian bab-bab selanjutnya menceritakan perjalanan Tegar dalam menghadapi kehidupan.

Begitu pertama kali membeli buku seharga Rp60.000,- , bayangan saya adalah kisah Rosie seperti yang ada di judul kaver. Ternyata isi keseluruhan lebih menceritakan tentang perjuangan Tegar. Dan sedihnya lagi, saya benci karakter Tegar. Dalam novel ia begitu terlihat sempurna. Penggambarannya sebagai sosok yang hebat, keren, istimewa, bijak, dan serba bisa. Sayang, Tegar tidak bisa meluluhkan hati saya. Disaat teman-teman menangis setelah membaca novel ini, saya justru kesal dengan Tegar yang plin-plan dan nyaris 20 tahun tidak bisa move on dari kisah cinta masa lalunya. Oh, geez. Hidup kan, tidak melulu untuk cinta.

Saya benar-benar kurang suka dengan kaver terbitan Mahaka yang terlalu memaksakan adanya gambar mawar di tengah pasir. Kavernya membosankan, juga tidak menyampaikan isi dalam buku tentang keindahan Gili Trawangun (Lombok) sebagai deskripsi yang diceritakan oleh Tere Liye sebagai setting tempat.

Seperti kebanyakan novel Tere Liye, saya pribadi menemukan pesan moral dalam novel ini, diajarkan untuk berjuang dalam hidup, memaafkan orang yang telah menyakiti, bersabar, kebersamaan, dan berdamai dengan masa lalu, bukan melupakannya. Tapi saya sebagai penggemar setia merasa ini bukanlah novel terbaik Tere Liye. Sampai bab empat saya masih tahan membaca, tapi begitu sampai di bab seterusnya saya mulai jengah. Kalimatnya patah-patah, Tere Liye kurang memberikan deskripsi secara mengalir dan bagi saya, terlalu minim kata sambung. Begitu banyak titik dalam satu kalimat sehingga membuat saya rela melewatkan beberapa paragraf untuk tidak dibaca. Saya bahkan tak bisa menangis saat membaca karena paragrafnya yang penuh titik. Memang, buku ini ditulis dengan bahasa yang komunikatif sehingga pesan yang ingin disampaikan penulis dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Penggambaran tiap karakter juga sangat kuat, alurnya memikat, dan penjabaran setting tempat yang begitu detil membuat saya tetap bertahan untuk membaca. Tere Liye memang ahlinya mengemas kisah nyata dalam bentuk fiksi. Tapi tetap saja paragraf deskripsinya membuat saya kecewa. Untungnya tidak ada kesalahan menulis. Hanya ada satu kesalahan kalimat di halaman 44 yang,
“…Kau harus berganti mandi, pakaian, ti…..” yang seharusnya “berganti pakaian, mandi.”

Tak memungkiri, buku-buku Tere Liye selalu menjadi list saya untuk dibaca. Poin plus novel ini mengemas kisah pahit manisnya hidup dengan sederhana tanpa berlebihan. Kadang sesuatu yang sederhana memang akan terasa tidak biasa. Tapi secara pribadi, tetap saja kisah cinta Tegar terlalu menye-menye, walaupun di akhir cerita ada twist yang tak terduga yang menjadi penyelamat dalam kekurangan buku ini. Sebagai pecinta buku, novel Sunset bersama Rosie memang ada baiknya jangan dikewatkan. Bisa jadi anda akan berurai air mata ketika membacanya. Oh, satu lagi. Saya jatuh cinta dengan tokoh Sekar. Anda harus membaca buku ini untuk tahu seberapa hebat perempuan bernama Sekar.

Satu pelajaran penting yang saya dapat dari keseluruhan isi novel adalah, kita harus bisa berdamai dengan masa lalu, bukan melupakannya.

Advertisements

2 thoughts on “Review : Sunset Bersama Rosie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s