Bermain-main dengan Masa Lalu

Selamat sore!

Ayo kita bermain-main dengan masa lalu, yang menyakitkan. Saya menulis ini untuk menguji apakah hati saya masih kuat mengorek luka lama? Saya juga (mohon maaf) menuliskannya bukan untuk menjelekkan pihak terkait, saya hanya ingin bercerita.
Bagaimana dengan kamu? Punya masa lalu yang pahit? Ah, saya banyak. Saya dibesarkan di lingkungan yang sering menampar hati saya. Masa lalu saya yang pahit salah satunya tentang….. *siapkan pegangan*

1/ Mainan cantik dan pemiliknya yang cantik.

Saya ingat, saya pernah terlibat percakapan dengan ibunya teman saya, waktu saya berusia sembilan tahun. Settingnya, saya dan empat teman bermain ke rumah dia dan ada ibunya, juga ayahnya. Waktu itu kami bermain karena mau latihan menari. Waktunya pukul tiga sore selepas menari. Kondisinya kami sedang menikmati sirup rasa jeruk dan teman saya memamerkan mainan mewahnya. Sebut saja teman saya bernama Mawar. Uni, adalah panggilan untuk saya.

Mawar : Bagus kan. Ini boneka berbi paling mahal. Di belinya di luar negeri. Tas, sepatu, sama kalung bisa dilepas.
Ibunya : Iya, kalian belum tentu bisa beli.
Empat teman saya : Boleh pegang? Boleh coba? Boleh lihat?
(Saya tidak begitu tertarik. Di rumah saya banyak sekali boneka berbi, dan saya pecinta berbi (sampai sekarang) sampai-sampai saya tahu kualitas bagus jeleknya boneka berbi. Mainan dia bagus, tapi bukan produk luar negeri. Produk luar negeri selalu ada tandanya di bagian paha.)
Saya : Aku… (Saya mau bilang kalau saya punya boneka juga),
Ibunya : Boleh kok, semua boleh mainin boneka Mawar. Tapi Kalau Uni jangan. Nanti rusak.

Di hari lain, masih di tempat yang sama, dengan orang yang sama, Ibunya kembali berulah. Seusai latihan menari, ibunya menyiapkan camilan kecil dan kami berenam (Mawar, saya, empat teman saya) siap menyantap camilan. Semua datang ke dapur. Semua kebagian segelas sirup, semua kebagian sepiring kue (atau entah, saya lupa camilannya) , kecuali saya.

Ibunya : Maaf, kuenya habis. Kamu jadi nggak kebagian.
Saya : Tapi yang lain dapat, kok bisa nggak pas pembagiannya?
Mawar : Yaudah kalo laper pulang aja. Di rumah sendiri kan bisa makan sepuasnya.

Padahal saya lihat jelas masih ada banyak. Dan hari-hari berikutnya yang membuat saya semakin merasa dikucilkan.

Ketia pementasan menari kami akan berlangsung, H-3 ibunya membelikan baju untuk kami pentas. Pakaian tank top dan rok flores siap kami pakai. Hari sebelumnya kami sudah berpesan warna apa yang kami mau. Tapi, warna merah pesanan saya, malah berganti jadi kuning. Dan saya harus membayar Rp 12.000,- sementara teman yang lain hanya sembilan ribu. (Ini usia saya sembilan, sekitar tahun 2001).

Di samping itu, ayahnya baik sekali. Baik. Sangat baik.

2/ Ada sesuatu ketika telepon berdering.

Beberapa tahun kemudian, tahun 2010. Saya menelepon rumahnya. Mencoba menjalin hubungan pertemanan dengan Mawar. Tapi sakit hati yang saya dapat. Saat itu ayahnya yang menerima telepon dengan sangat ramah. Tak lama Mawar menyambar gagang telepon, sedikit membetak dan bertanya buat apa saya menghubungi dia.

Se-hina itukah saya? Atau saya pernah berbuat salah pada keluarganya sampai-sampai dia membenci saya? Atau dia malu berteman dengan saya yang yatim juga hidup dalam segala kesederhanaan? Oh, mungkin dia malu punya teman seperti saya.

Beberapa kali saya masih menghubungi dia, di telepon, di friendster, tapi dia menolak berbicara dengan saya. Ah, saya hanya bisa mengagumi kecantikan mawar melalui foto di friendsternya. Saya sempat mampir melalui depan rumahnya, baru mau membuka pagar, ibunya membanting pintu depan. Padahal niat saya hanya ingin meminta maaf.

2013 kemarin, telepon rumah saya berdering. Dari Mawar. Kebetulan saya sedang di kampus. Dan saya tidak ada hasrat untuk menelepon balik. Terlalu lelah saat itu.

Beberapa bulan kemudian, ibu saya ke pasar dan bertemu dengan ibunya Mawar. Ibunya bilang pada ibu saya, bahwa ayahnya meninggal beberapa bulan yang lalu. Ibu saya lantas berkujung ke rumahnya, berbincang atas nama duka. Tapi saya belum. Saya tidak benci dengan keluarganya, tapi di usia sekarang hati saya terlalu rapuh. Hati saya tidak kuat lagi menerima perlakuan seperti yang pernah dilakukan. Saya tidak sanggup ke rumahnya bahkan melintasi depan rumahnya pun, enggan.
Ibu saya terus membujuk agar saya kesana, berbincang sebentar dan menyatakan kedukaan saya, tapi saya selalu berdalih dengan alasan sibuk.

3/ Memutuskan untuk menyerah, lebih baik.

Waktu terus berjalan meski pun napas manusia terhenti. Umur terus bertambah walau pun memori tentang seseorang semakin berkurang. Tapi semua ingatan buruk tentang perlakuannya tidak bisa hilang, dan saya benci pada diri saya yang terus mengingatnya. Saya memang tidak akan pernah bersikap seperti itu kepada orang lain. Tapi mungkin ada sikap saya yang membuat dia sakit hati. Saya mafhum. Dan kamu, jika kamu membaca ini, maafkan saya karena saya menuliskan semuanya di diari saya. Maafkan karena terus saya ingat semua perlakuanmu. Maafkan saya karena pada akhirnya saya menyerah pada keadaan, menyerah untuk tidak berbaikan dengan kamu. Maafkan saya karena memutuskan agar lebih baik kita seperti ini, seperti tidak saling mengenal padahal beberapa bulan lalu kita berpapasan. Maafkan saya karena belum bisa berziarah pada ayahmu yang sangat baik, saya turut berduka cita sedalam-dalamnya. Saya tahu betul rasanya kehilangan sosok pelindung dalam keluarga. Sekali lagi, maafkan saya karena tidak bisa lagi mati-matian berjuang mendapat status teman dari kamu. Sekarang saya sadar, memang tidak layak berteman dengan kamu, saya cukup tahu diri. Dan saya saat ini cukup bahagia dengan teman yang bisa menerima saya dengan segala keanehan yang saya punya.

Salam,

Stranger.

*) Ini kisah nyata. Jangan protes. Ini blog adalah diari saya. Kalau anda berpikir saya aneh, silakan. Tapi di usia yang masih kecil semua perlakuan buruk akn selalu diingat samapi kapan pun.
**) Kalau kamu menganggap ini fiksi, sekali lagi saya tegaskan ini kisah nyata. Blog ini khusus untuk pengalaman saya di dunia nyata. Semua fiksi saya dituliskan di chairanidzalika.blogspot.com . Di sana semua fiksi.
***) Ini kisah nyata dan terserah, kamu boleh menganggap saya jahat atau apalah, tapi saya tidak punya maksud lain selain menulis.
****) Tulisan ini di publish tanpa seizin pihak terkait. Ah, siapalah saya ini. Ditulis pun, sepertinya tidak ada yang membaca.

thanks for visit my site ๐Ÿ™‚

Advertisements

4 thoughts on “Bermain-main dengan Masa Lalu

  1. Ah, yatim dan dipandang sebelah mata memang seperti dua hal yang sulit dipisahkan. Saya juga yatim sejak usia 6 th (1996) dan juga pernah dikucilkan gitu. Bahkan bukan teman, tapi saudara2 sepupu yg seusia saya dan ibu2 mereka. Juga sampai sekarang. Membanding2kan mereka yang kemilau dengan saya yang ndak ada apa2nya. Ya, saya memang bukan siapa2 dibanding mereka.

    Sabar, ya, Uni. (Bolehkah ikutan panggil Uni?) Ibu Uni masih ada kah? Kl ibu saya udah nyusul ayah th 2009 lalu. :’)

    1. wah, terima kasih sudah membacanya, kak. ternyata ada yang senasib ๐Ÿ˜€ ibuku masih ada, dan sekarang sih aku lebih percaya diri, jadi kalau ada yang tega begitu aku galakin ๐Ÿ˜€ *itu percaya diri, apa galak ya* iya, panggil uni aja, salam kenal ya ๐Ÿ˜‰ . sekarang tinggalnya sama siapa kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s