Rahasia Kecil

For any reasons that I couldn’t explain, I felt like a foolish person when I saw many people more smarter than me. Everyone so smart, then I think I dont have any ability to doing something like they did. Tapi bukan itu point-nya.

Kemarin sore saya pulang kuliah. Untuk pulang ke rumah saya harus berjalan kaki terlebih dahulu, melewati sekitar lima belas blok perumahan. Dan saya selalu memakai wedges setiap berpergian. Selain sepatunya cantik, membuat kaki terlihat lebih jenjang. Ah, sial. Kemarin sepulang kuliah, saya jatuh. Tepat sekali di lutut kaki kanan berdarah. Padahal saya memakai rok panjang dan celana leging. Juga luka di bagian telapak tangan kiri. Agak aneh jatuh di usia segini.

Perumahan saya bersebelahan dengan perkampungan, dan orang-orang yang tinggal di perkampungan melihat saya jatuh. Lantas mereka berteriak kencang, panik, dan membuat satu kampung keluar rumah untuk melihat saya. Sialan ya, dasar orang kampung. Norak. (۳º̩̩́_º̩̩̀)۳ Saya nggak malu, nggak marah juga. Saya hanya merasa bodoh dan semakin kesakitan ketika darah mulai membanjiri kaki saya.

Dulu, ketika usia saya tujuh tahun, saya pernah jatuh dan lutut kanan saya berdarah. Saat itu saya juga memakai baju panjang. Darah merembes ke pakaian. Ketika sampai di rumah saya lihat lukanya begitu dalam, dan membekas sampai sekarang. Cacat. Kulitnya jadi tidak mulus lagi. Bentuknya seperti bekas jahitan besar. Entah kenapa, 21 tahun kemudian, (kemarin) jatuhnya tepat mengenai luka lama, membuat darah kembali mengalir deras.

Banyak yang bilang itu karena sepatu yang saya gunakan membuat saya jatuh. Saya bilang bukan. Orang perkampungan tetap bersikukuh bilang kalau wedges malang itu yang membuat saya jatuh. Lha, saya terluka mereka malah sibuk berdebat. Kan, saya yang pakai sepatunya. And I so comfort with that wedges. Lagipula, setiap hari pakai sepatu tinggi kok. Kalau memang karena sepatu saya jatuh, kenapa nggak setiap hari saya jatuhnya?

Saya selalu berpikir kalau kaki saya aneh. Sejak kecil dia tidak terlalu kuat menopang tubuh saya. Terlebih kalau saya terlalu capek, dengan mudahnya akan jatuh. Saya selalu bertanya-tanya apakah ini sebuah penyakit atau apa. Dalam keadaan bertelanjang kaki sekali pun, tubuh saya suka lunglai, lalu jatuh. Sejak kecil. Dan saya tak pernah mengadu kepada orangtua saya tentang ini. Kelemahan ini menjadi rahasia kecil yang saya tutupi dari keluarga. Padahal saya cukup makan, cukup minum susu, tumbuh sehat, tapi kaki saya sakit. Membuat saya depresi di beberapa waktu, menangisi lemahnya kaki ini. Ada kesalahan apa? Saya jadi teringat pernah menonton film ‘one little of tears’ asal jepang yang tubuhnya tidak bisa menopang diri sendiri. Ah, tapi saya tak separah itu.

Saya yakin ini bukan suatu penyakit, hanya saja ada ketidaksamaan dalam otak dan kaki saya sehingga saya sering jatuh. Saya bukan dokter sehingga saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi saya selalu mencoba untuk berpikir baik, bahwa saya, kamu, dan kita semua harus menerima kekurangan tubuh kita apa pun itu. Meski pun bentuk tubuh seseorang terlihat sempurna, tetap saja pasti ada kekurangannya. Saya tak memungkiri sesekali depresi karena kaki saya sering membuat tubuh yang lain terluka. Tapi saya tak akan menuntut Tuhan atas kebodohan yang sering saya alami.

Yuk, sama-sama sayangi tubuh kita dengan segala kekurangannya. Dan selalu jaga kesehatan karena sehat itu mahal sekali :’)

Bogor, 30/10/13 , sambil sesekali melihat lutut kanan yang malang.

SELAMAT HARI KESEHATAN NASIONAL !

Advertisements

6 thoughts on “Rahasia Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s