Rahim Bumi

((Tulisan ini ikut meramaikan event #30DaysSaveEarth ))

Selamat pagi, anda.

Terkadang saya suka berpikir hal yang aneh tentang hal yang jarang dipikirkan orang lain. Salah satu contohnya, tentang tanah.

Jika seluruh daratan di bumi sudah tertutup oleh aspal, tanah-tanah bisa disebut ‘punah’ . Entahlah. Terlihat sepele, tapi dampaknya sangat menyeramkan. Memang, tanah tampak jelek dan membuat alas kaki kita kotor. Plus kalau (wanita) memakai stiletto, heels, dan sejenisnya, akan terganggu. Apalagi kalau hujan, ketika kaki berpijak, akan ada banyak liat tanah yang menempel dan membuat kita sering mengeluh. Tapi tanah baik. Dan penting dalam kehidupan kita.

Tanah itu hangat. Dia seperti rahim. Rahim bagi bumi kita yang melahirkan banyak makhluk hidup berupa tanaman. Rahim bagi makhluk hidup yang mencari tempat tinggal, seperti beberapa binatang. Tanah juga bermanfaat untuk penguraian bangkai. Itu menjadi salah satu sebab mengapa dulu jarang bau bangkai sedangkan sekarang sering kita melihat, bangkai utuh berhari-hari di jalanan. Tanah itu ramah. Bayangkan saja, jika Tanah tiada, akan jadi apa bumi kita.

Saya selalu rindu tanah. Dewasa ini bahkan kampung halaman kita sudah seperti kota metropolitan. Tanpa tanah. Tanpa kubangan.

Lalu, kemana saya harus menjajaki kaki ini di atas tanah? Saya ingin hidup tenang, menikmati masa tua dengan menatap pepohonan rindang, dan mengajari anak cucu bagaimana berkebun yang baik, bagaimana menanam kehidupan di atas rahim bumi yang selalu kita sebut sebagai tanah.

Saya benci aspal. Benci kokohnya yang membuat air sulit bertemu tanah. Benci warnanya yang menyiratkan kesuraman hidup. Benci kehadirannya yang tidak bisa memberi kehidupan bagi makhluk hidup. Benci keangkuhannya yang menolak menguraikan bangkai. Saya benci. Aspal itu siapanya bumi? Kenapa ada di bumi kita? Ah , andai saja saya punya negeri sendiri, akan saya dirikan rumah-rumah adat, dan membangun jalanan asri dengan pepohonan di tiap jengkal kaki, melestarikan pemakaian sepeda, membuat tanah subur untuk bercocok tanam dan membiarkan cacing menggeliat manja di atas tanah. Dan akan melarang masuknya aspal di negeri ini. Doakan saja, suatu hati nanti.

Saya rindu tanah. Rindu melihat ekspresi jijik anak-anak saat melihat cacing. Rindu melihat binar mata anak-anak saat melihat kumbang, kepik, dan belalang hijau. Rindu suasana gelak tawa ketika kaki-kaki kecil berlarian di atas tanah saat hujan turun rebas-rebas. Rindu melihat tumbuhan antanan atau getah jarak tumbuh besar di atas tanah. Rindu kaki ini bemain di atas tanah merah sambil sesekali menarik-ulur layang-layang. Rindu bercocok tanam di atas tanah hitam. Rindu melihat aliran air hujan meresap masuk ke dalam tanah…

Dan rindu saya tidak berbalas. Hanya ada aspal yang selalu saya temui.

Kalau rahim bumi nyaris ‘punah’ , sudah tidak ada lagi yang bisa lahir untuk memberi kehidupan di bumi.

Lalu, bagaimana dengam nasib kita?

thanks for visit my site 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Rahim Bumi

  1. Tempat rekreasi favoritku adalah alam. Adem rasanya kalo mencium bau tanah, bau pohon dan sejenisnya. Daripada harus ke mall. pih!!

    Aku hutang satu artikel lagi buat #30DaysSaveEarth ya Uniii… insa Allah besok deh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s